Blognya yunie

August 7, 2008

The Starbucks Experience

Filed under: Referensi Buku

Nah ini buku yang telah selesai aku baca setelah buku Iceber is Melting. Awalnya sih aku belum mengerti kenapa buku ini sampai dibuat, tetapi setelah membacanya aku jadi mengerti. Buku ini ditulis oleh Joseph A. Michelli, Ph.D. Beliau adalah pendiri Lesson for Success, sebuah perusahaan pelatihan, konsultasi dan penyelenggara seminar. Ia juga seorang penyiar untuk sebuah acara harian di radio KVOR-AM di Colorado dan menjadi pembicara di berbagai seminar yang diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan di seluruh dunia.

The Starbucks Experience, bukan sekedar berkisah tapi mengajari kita mengenai keberhasilan mereka menggabungkan antara layanan yang memuaskan dengan pembelajaran kepada para pelanggan. Kesuksesan Starbucks yang genius disebabkan oleh kelihaiannya dalam menciptakan pengalaman pelanggan yang personal, mendorong pertumbuhan bisnis, menghasilkan profit, membuat karyawannya bersemangat, dan menjamin kesetiaan pelanggan. Semua itu dilakukan pada saat yang bersamaan.

The Starbucks Experience mencakup penyatuan yang solid antara kejeniusan sebuah kopi rumahan dan filosofi yang mendorong orang untuk bertindak, yang telah membuat Starbucks sebagai salah satu perusahaan yang "paling dikagumi" itu menurut majalah Fortune. Dengan akses unik untuk mendekati sumber daya dan personel Starbucks, Joseph Michelli menemukan bahwa kesuksesan Starbucks didorong oleh orang-orang yang bekerja disana, para mitra dan pengalaman spesial yang mereka ciptakan untuk masing-masing pelanggan.

The Starbucks Experience mempunyai 5 prinsip penerapan kunci kepemimpinan yang mengubah gagasan biasa menjadi menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa.

5 Prinsipnya adalah :

Prinsip 1 : Lakukan dengan cara anda

Prinsip 2 : Semuanya penting

Prinsip 3 : Suprise and Delight

Prinsip 4 : Terbuka terhadap kritik

Prinsip 5 : Leave your mark

Untuk lebih lanjutnya silahkan baca buku tersebut. Semoga buku ini bisa menjadi referensi untuk teman-teman yang suka membaca.

June 16, 2008

Our Iceberg Is Melting

Filed under: Referensi Buku

Dan pada akhirnya selesai juga buku ini aku baca. Buku yang menurut aq pemberi semangat dan menambah wawasan tentunya emoticon Aq mau ngebahas sedikit mengenai buku ini, mungkin bisa juga di jadikan referensi untuk temen2 yang suka baca.

Buku ini ditulis oleh John Kotter (Penulis Peraih Penghargaan dari Harvard Business School) dan beliau adalah guru kepemimpinan dan perubahan di Harvard Business School. Ia adalah penulis sebelas buku yang mendapatkan penghargaan atau menjadi buku bisnis paling laris. Dan Holger Rathgeber beliau adalah seorang manajer global modern. Beliau bekerja untuk Becton Dickinson, salah satu perusahaan teknologi medis dunia.

Our Iceberg Is Melting adalah cerita sederhana tentang cara melakukan sesuatu dengan baik di dunia yang terus berubah. Cerita ini berkisah tentang koloni burung penguin yang hidup di Antartika. Sekelompok penguin kaisar yang indah yang telah bertahun-tahun hidup tenang di sana. Kemudian seekor penguin yang selalu ingin tahu menemukan masalah yang berpotensi menghacurkan kehidupan mereka, sayang tidak ada yang mendengarkannya. Tokoh-tokoh dalam cerita ini, Fred, Alice, louis, Buddy, Profesor dan NoNo, seperti orang-orang yang kita kenal, bahkan seperti diri kita sendiri. Kisah mereka berkisar antara perlawanan terhadap perubahan dan aksi yang gagah berani, penghalang-penghalang yang tampaknya sulit diatasi, dan solusi atau jalan keluar paling cerdik untuk menghadapinya. Cerita semacam ini tampil dalam berbagai bentuk di sekeliling kita, namun mereka mengatasi tantangan tersebut dengan cara yang luar biasa dibandingkan dengan yang mungkin akan kita lakukan. Buku ini didasarkan pada karya terdahulu yang menunjukkan bahwa penggunaan metode Delapan Langkah dapat menghasilkan perubahan yang diperlukan kelompok apapun. Cerita ini dapat dinikmati semua orang dan pada saat bersamaan memberikan petunjuk tak ternilai bagi dunia yang bergerak semakin cepat.

Sinopsis :

Cerita ini mengenai cairnya gunung es di antartika. Dan ada yang mengira gunung es tidak akan mencair. Satu diantara mereka adalah fred yang selalu memikirkan bagaimana nasib keluarga dan teman-temanya apabila gunung es mencair dan mereka semua belum menemukan tempat untuk bernaung. Dan sampai suatu hari fred menunjukkan retakan-retakan dan tanda-tanda penurunan lain akibat adanya pencairan kepada alice. Fred menjelaskan bahwa gunung es tidak sama dengan es balok. Gunung es memiliki celah-celah di dalamnya yang disebut kanal. Kanal dapat mengarah ke gelembung udara besar yang disebut gua. Apabila es mencair dalam jumlah yang cukup, celah-celah yang ada terisi air, yang kemudian akan mengalir ke kanal dan gua.

Singkat cerita fred melakukan eksperimen mengenai gunung es mencair tersebut. Fred mengambil sebuah botol yang berisikan air, menutup lubang diatasnya dan membiarkannya terkena angin dingin. Lantas keesokan harinya bisa dilihat apakah benda ini akan pecah oleh tekanan air yang bertambah karena airnya membeku. Dan yang terjadi keesokan harinya botol itu benar-benar pecah karena es yang mengembang di dalamnya terlalu besar. Eksperimen tersebut sempat di tentang oleh NoNo yang tidak percaya gunung es akan mencair, setelah eksperimen itu selesai dia masih ragu dengan itu tapi tak dapat dipungkiri juga kalau itu akan terjadi. Dan pada akhirnya penguin-penguin tersebut mencari-cari tempat baru untuk kepindahan mereka. dan NoNo masih meramalkan adanya malapetaka sampai saat paling akhir. Dan mereka semua pindah ke tempat baru mereka. Mereka pindah lagi. Ini langkah penting: untuk tidak merasa puas diri dan tidak cepat berhenti.

Maksud dari buku ini adalah, kita harus siap dengan berbagai perubahan di dunia ini dan memastikan bahwa perubahan tidak akan dapat diatasi dengan sikap keras kepala dan tradisi yang sukar dilenyapkan.

Silahkan baca buku tersebut untuk kelengkapan ceritanya dan semoga buku ini punya nilai tersendiri dan bermakna bagi setiap pembacanya.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham